Kondisi Rumah per Mei 09
0 komentar Rabu, 20 Mei 2009
Aku dan wife mengunjungi calon rumah kami di Bojong. Well, dah 75 % jadi lah, tapi belum ada listrik, air dan kamar mandi masih belum selesai. Kata mister Yuyun, maybe bisa ditempati nanti di bulan Juli. Insya Allah.
Bring 'Em Back Alive
0 komentar Selasa, 21 April 2009Ini dia film lama yang tokoh-tokohnya dulu sempat jadi idolaku waktu jaman SD.
Dari info Wikipedia, diinformasikan bahwa :
Bring 'Em Back Alive is an adventure television series starring Bruce Boxleitner, Cindy Morgan and Ron O'Neal. The series was shown in the United States from September 1982 to May 1983. Set in Singapore, it was one of several shows like Tales of the Gold Monkey to try and capture the success of Raiders of the Lost Ark. In reality,Frank Buck was a real big game trapper who was very famous in the 1930s. He wrote a book entitled Bring 'Em Back Alive. He appeared in several movies including a 1932 adaptation of the book and is remembered by serialfans as the star of Jungle Menace.
Original cast
§ Bruce Boxleitner as Frank Buck, big game trapper and collector of wild animals
§ Cindy Morgan as Gloria Marlowe, United States Consul, Singapore
§ Clyde Kusatsu as Ali, Buck's friend and No. 1 Boy
§ Ron O'Neal as H.H., His Royal Highness, the Sultan of Johore
§ Sean McClory as Myles Delaney, manager of the Raffles Hotel
§ John Zee as G.B. Von Turgo, smuggler and kingpin of the Singapore underworld
§ Harvey Jason as Bhundi
Foto-foto untuk Gloria Marlowe bisa dilihat di website-nya Cindy Morgan http://www.cindy-morgan.com/
Kabar dari Jember - Evi & Uul
0 komentar Sabtu, 28 Maret 2009Well, sebulan ini aku dapat banyak kabar dari teman-teman lama, dari teman SD dulu di Madura, teman SMA di Jember, dan akhirnya teman SMP ku si Evie, yang akhir-akhir ini jadi rajin kirim kabar setelah kasus ketidakhadirannya di pernikahan Mayek.
Akhirnya foto-foto keluarga Gajah Mada XII itu bisa kulihat. Semoga Allah melimpahi rahmat yang besar buat keluarga Evi, juga si Uul, yang sampai saat ini masih aku anggap sebagai little sister di Jember.
Bidadari Kecilku
1 komentar Selasa, 24 Maret 2009Menyanyilah
Permata indahku
Menemani mentari yang menghangatkan dunia
Tersenyumlah Malaikat malamku
Menemani rembulan dalam cerah mimpiku
Andai kau besar nanti
Ketika kau sudah tak mengenaliku lagi
Di saat itu aku akan tersenyum padamu
Di tengah keherananmu pada tingkah seorang tua
Yang terus saja memandang wajah cantikmu
Sampai meledak rasa rinduku padamu
(untuk memori indah dari si Onyon di surga Bojong)
Photos Raja dan Ratu Sehari karya Aa Dede
0 komentar Senin, 23 Maret 2009Baru semalam aku dapatkan foto-foto “resmi” hasil jerih payah Aa Dede. Cukup bagus, dan berseni. Jadi iri juga melihat disainnya. Bagaimanapun, rentang waktu lebih dari 3 tahun diukur dari saat nikahku dulu pasti cukup signifikan bedanya dengan keadaan sekarang, dimana pasangan-pasangan yang nikah di tahun ini dimanjakan dengan dukungan teknologi fotografi untuk mengabadikan kenangan menjadi raja dan ratu sehari.
Berikut ini foto-foto kenangan sang pengantin dan keluarga besar :
Bernostalgia di Kantor Lama
0 komentarHari Minggu ini awalnya berencana langsung pulang ke Bandung, setelah seharian pada hari Sabtu mengunjungi beberapa teman lama di Cibinong (mb Atik) dan Bogor (mas Aji dan bu Tuti). Tapi rasanya kok sayang, mumpung sudah sampai Jakarta. Akhirnya kuputuskan mengunjungi kantor lama, sekalian mau ambil buku atau data yang mungkin bisa dijadikan bahan penulisan tesis.
Kantor masih seperti terakhir aku lihat sekitar dua tahun lalu. Tentu ada perubahannya, dari tata letak perabotan kantor sampai ke mekanisme baru pengamanan lab yang menyebabkan aku nggak bisa masuk ruang Lab. But that’s okay, toh aku masih bisa mendapatkan beberapa dokumen yang aku anggap lumayan bermanfaat.
Calon Istanaku di Campernik
0 komentarDi minggu kedua bulan Maret ini, berarti pengerjaan calon rumah sudah memasuki usia hampir tiga mingguan, aku sempatkan menengok ke dalam. Sempat bertemu dengan sang mandor, yaitu pak Utis. Beliau orangnya unik, jabatan mandor namun gayanya masih ala tukang. Itu sebabnya aku sama sekali tidak menduga kalau beliaulah yang mengawasi sebagian kegiatan para tukang di pembangunan perumahan baru ini.
Sempat agak ciut juga hati ini, karena merasa rumah ini belum-belum sudah terasa sempit dan kecil. Apakah karena kami terbiasa di rumah besar, rumah ortu kami kebetulan Alhamdulillah agak lapang. Sempat bapak bilang kalau rumah belum jadi memang begitu, nanti kalau sudah jadi mungkin baru terasa agak luas. Tapi menurut logikaku, bagaimana mau minta luas, wong rumahnya saja bertipe 36.
Tapi semua harus aku syukuri, sebagai nikmat yang besar dari Allah. Akhirnya bisa juga aku punya rumah, walau masih banyak hutang yang wajib aku bayar. Semoga Allah menjadikan rumah ini menjadi istana produktif bagiku untuk menjadi basis amalan di tahun-tahun mendatang.
Amin.