Pak Narko Pamitan
0 komentar Sabtu, 01 November 2008Baru saja saya pulang sholat Isak di masjid Persis GBA, saat saya melihat pak Narko dan istri baru pamitan dari rumah di Shasha dan teteh. Wah, saya sudah “curiga”, ini pasti ada kaitannya dengan selentingan bahwa mereka akan pindah rumah ke Jawa.
Tepat dugaan saya, pak Narko akhirnya sowan ke rumah, dan mengutarakan niat kepindahannya ke Jombang, mengikuti Mbak Yanti, anaknya yang kebetulan mendapat pekerjaan baru, diserahi amanat mengurus pabrik (atau toko?) roti milik saudaranya di sana.
Yah, Pak Narko, kami doakan Bapak dan Ibu selalu mendapat perlindungan dari Gusti Allah Sang Maha Raja Alam Raya. Baru sedikit cerita yang kita buat bersama, tetapi satu hal yang selalu saja terngiang di otak saya, senyum tulus dan lambaian tangan Bapak kalau saya lagi lewat di depan Bapak menuju kampus, biasa di pagi hari.
Pak Narko juga sempat banyak cerita tentang beberapa pengalamannya, dari mulai saat perang dulu dengan Belanda, sempat bergerilya di pantai Sukabumi (kalau nggak salah) menuggui teman-temannya datang, sampai seminggu tidak datang juga. Terus Bapak juga sempat cerita tentang pabrik gula-nya (kesan saya mungkin Bapak adalah salah satu juragan gula juga) yang ada di Kediri.
Kemarin-kemarin saya sempat melihat ada bus Lab Paramita nongkrong di depan rumah Pak Narko. Sempat sih saya bertanya-tanya dalam hati, ini mobil siapa dan apa hubungannya dengan Pak Narko. Ternyata itu bus saudara Pak Narko, yang akan mengangkut beberapa barang yang diberikan oleh Bu Narko.
Besok mereka akan pergi, naik kereta Argo Wilis, sore hari. Hmmm…waktu begitu cepat berlalu, padahal baru saja semingguan lalu Pak Narko cerita banyak tentang hari lebarannya bersama-sama keluarga besar di Jogja, tepat saat saya dan keluarga ke silaturahmi ke Brosot waktu itu.
Di mesjid Persis, pak Narko dikenali orang, selain Pak Wawan. Dulu Pak Narko sempat tinggal di Komplek Dadali sebelah komplek kami. Kesan saya mungkin dulu Bapak termasuk lumayan aktif di masjid Persis ini. Bapak memang total berada di sekitar komplek ini selama 3 tahun.
Selamat Jalan Bapakku yang baik hati.
Semoga Allah akan mempertemukan kita kelak di surga.
Amin.
Bantu Kendi pindahan dari Kopo
0 komentar Kamis, 30 Oktober 2008
Hari ini rada suntuk dengan rencana pindahnya adikku si Kendi dari kamar kontrakannya di Kopo menuju rumah Cimahi lagi, padahal baru sebulan ini anak mencoba belajar hidup sendiri (walaupun tiap minggu datang juga ke Cimahi sambil kasih oleh2 pakaian yang nggak dicuci seminggu, persis dulu saat aku baru kerja di Cibinong).
Hujan deras sekali, saat mobilku full ama barang-barang si Kendi. Wife menunggu di sekitaran Mall Kopo. Sekalian aku mampir ke Jogja (??) untuk sholat ashar, yang sudah hampir usai. Agak basah kuyup, takut sakit, but Alhamdulillah Tuhan memberi kekuatan badan sehingga besoknya ternyata tidak ada rasa demam atau sakit lainnya.
Kembali ke persoalan Kendi, ini sebenarnya mengecewakan Dad. Kita ada niat biar dia mau belajar mandiri. Tapi apa boleh buat, karena alasan finansial (dia mau bisa nabung, katanya) maka akhirnya kita turutin saja maunya apa, padahal untuk itu dia kembali harus bolak-balik Cimahi-Kopo setiap hari.








Ketemu Ulfa - Suci - dkk
0 komentar Selasa, 28 Oktober 2008Hari ini aku bahagia nih, ketemu ama anak-anakku, para mantan muridku dulu waktu mereka masih kelas dua SMK Sandhy Putra Makassar. Ada Ulfa, Suci, dan laennya (gak hafal nih), semua ada delapan. Mereka sedang PSG di Kantor Telkom yang lokasinya gak jauh dari kampus IT Telkom.
Di sana sempat ngobrol dengan pak Heri, salah satu dari dua temen Telkom yang ditugaskan menunggui ini kantor (selain Pak Gangsar). Rupanya Pak Heri ini lama di Bali, punya adik yang kuliah di Unsud dan katanya sih punya temen baek di Divre 07.
Wah, rupanya ku bener-benar kangen ama mereka berdelapan ini, yang lainnya masih PSG di kantor Supratman dan satu lagi di Lembong kalau nggak salah. Sebulan sekali mereka akan roling. Si kecil Helda katanya giliran bulan depan.
Hm, jadi ustad deh, banyak kasih nasehat, dari mulai ngajarin tentang kehidupan kampus, tips memilih kampus, sampai ke urusan kesehatan. Udah dua korban katanya, diare. Maklum lah, udara lagi nggak enak, hujan pula. Pas mereka kesini, musimnya lagi pancaroba. Siang hawanya panas banget, sore dikit dah hujan.
Aku janjikan mereka akan kasih file untuk PTA, dari senior-senior mereka dulu, mulai Suryanti, Ifa, Nanda, de-el-el. Biar mereka jadikan itu referensi bagi mereka. Kasiihan juga, bulan Februari katanya harus sudah mulai siap-siap UAN.
Tapi ini kayaknya bakal jadi minggu awal musim hujan. Wah, kebagian juga di Bandung bermusim hujan ria. Kasihan bini nih, ngurusin baju yang susah kering nantinya. Eitsss, sepatu futsalku juga belum kering katanya. Padahal besok Rabu jadwalnya futsal.
Pulang, aku kehujanan. Ya gapapa lah, yang penting senank, bisa ketemu mereka semua.
Hey Edo....
0 komentarHari ini, pagi tadi, saat ku mau go campus, the three musketer komplek Sekar Parahyangan yaitu si Fandi, Michael and Edo (sering kuteriakkan “Hey Edo’, how a u Edo”), pada kumpul di depan rumah. As usual, si Fandi begitu melihatku langsung salim, cium tangan ala anak pesantren ke gurunya, he..he..Si Michael pun ikut-ikutan.
Ini dia foto-foto ala mereka bertiga. Gayanya tuh loh, three musketerrrrr….ha…ha…ha…
Hey Edo....

Kedatangan atlit loncat kasur
0 komentar Senin, 27 Oktober 2008Walah, kedatangan tuan putri dua “setengah orang” nih, Adel and Chacha. Rumah lagi dicat, karena ada keretakan akibat dipukul-pukul ama tukang sebelah yang lagi buat rumah baru.
Nah, kok jadi ada kesenangan baru nih, maen di kasur, loncat-loncat deh ke kasur.









Kemilau Nusantara Part 1
0 komentarHari ini full acaraku, ke gazibu with my lovely wife, dan sesuai plan kami di sana nonton pameran Kemilau Nusantara 2008, yang katanya sudah lima kali ini digelar, dan merupakan salah satu dari empat acara sejenis yang sifatnya nasional, selain Kemilau Sulawesi yang di Manado, Borneo apa gitu yang di Denpasar (biar turis asing disana mau mampir juga ke Kalimantan), ama satu lagi lupa tuh.



Ternyata baru tahu juga aku kalau Jawa Barat punya JCC (Jabar Craft Centre) yang di jalan juanda nomor 19, pusatnya kriya unggulan se jawa barat. JCC ini ada di bawah Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah). Baguslah, tapi harus kerja keras 3 kali lipat lagi tuh, jangan sampai jaipong diaku ama Malaysia, negeri serumpun yang kelakuannya aneh itu.

Aku juga dapat alamat nih, maybe bisa aku surfing, misalnya pesisirselatan.go.id, ciatersparesort.com, westjava-indonesia.com. dekranasjabar.com, dan sundanetwork.com (yang terakhir disebut ini travel agent kayaknya, yang menyelinap ke salah satu stan nawarin paket jalan-jalannya, sampai ke Eropa dan Umroh-nya).

Sayang banget, Kalimantan Selatan nggak nongol, juga Sumbar, padahal udah ditunggu-tunggu ama my wife.

Well, kesannya sih oke juga. Terutama yang paling oke, kalau menurutku adalah rombongannya Kalbar, tarian ala Dayak. Keren abis, dan penarinya terlihat serius, baik dalam penggarapan maupun penjiwaannya. Sabetan-sabetan mandau dan suara-suara teriakan kayak suku Indian Apache gitu lah. And, ada satu penarinya yang cuwantik, kelihatan paling kemilau, menurutku sih. Istriku juga mengiyakan kok. He..he..
Dan ini nih yang gak kalah keren, warok plus gemblak ala Reog Ponorogo, yang jelas mewakili Jatim. “Curang” banget, kalau reog keluar gini, pasti aja semua “nyingkir”, nggak akan ada yang melawan. Tarian Aceh sekalipun nggak bakal melawan. Jadi makin benci aku ama Malaysia, kesenian hebat gini mau diaku milik dia, sorry lah ya. Kalau mau pamer kelicikan ya jangan keterlaluan lah.

Kalau http://disperindag-jabar.go.id/ kurang bagus penampakannya, but updatingnya lumayan oke lah.

Wah, bangganya aku, jiwa ini memang masih terasa Jatim-nya, walau nafsu ingin tetap di Bandung. Jadi inget kalau awak ini lama di Jember. Oh Jember, sudah lama beta tak menjengukmu.








