Yang mau sekolah…

0 komentar Jumat, 09 Januari 2009

Sore ini ada yang kayaknya mau sekolah. Nenteng tas di punggung, kayak mau berangkat sekolah saja. He..he..si Caca hari ini mimik susu, makan rambutan, makan jeruk. Bersama-sama dengan kawan-kawan tercintanya si buaya, si macan, si kepicing dan si bebek beserta 3 anaknya.

Siang tadi ada aku dan sebagian besar teman-teman S2 sholat jumat di masjid kampus. Ada yanng agak unik, ceramah khotibnya bernuansa pendidikan. Diwejanginya para hadirin sidang sholat Jumat untuk membaca (diulang 3 x), mengajar (diulang 3x) dan menjadikan kampus sebagai “sajadah panjang” dalam hidup kita. Bagus juga ceramahnya, namun ada beberapa hal yang mungkin agak “aneh” seperti doa agar ujian UAS bagus-bagus, kebetulan minggu ini adalah minggu-minggu UAS. Khotib juga mengajak agar semua bisa berpartisipasi sekeras mungkin dengan naungan ridlo Allah, sehingga yang tidak mungkin menjadi mungkin, seperti keinginan kampus menjadi WCU (World Class University) pada tahun 2017 nanti akan bisa menjadi kenyataan, walaupun sangat berat.

Pagi hari aku sempat presentasi di depan teman-teman kelas untuk pelajaran regulasi. Aku dan salah satu teman (mas Rizal, namun sayangnya nggak bisa hadir) membahas tentang Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Tumben dosen tidak terlalu banyak komentar, mungkin disebabkan waktu sudah menunjukkan jam stengah 12 karena akan segera sholat Jumat. Lumayan lah, tugas presentasiku semua sudah selesai. Tinggal sisa melakukan edit terhadap pelaksanaan tugas dari pak ATH dan membuat hardcopy tulisan untuk UU ITE ini. Tapi UAS sudah menunggu mulai hari Senin sampai Jumat.

Ada satu hal unik saat pak ATH memberi tambahan bahan UAS untuk pelajaran Network & Service Management, yaitu bahwa akan ada soal yang tidak diajarkan sebelumnya. Wah…ini agak nyentrik juga, tapi that’s okay. Menarik juga untuk diikuti dan dicoba (terpaksa dicoba maksudnya). Kisi-kisinya sih penggunaan sistem linier untuk permasalahan optimasi. Mungkin aku harus belajar sedikit penggunaan Matlab untuk ini, atau mungkin di Excel ada, atau aku menggunakan software WinQSB yang aku punya.

read more “Yang mau sekolah…”

Mayek Oh Mayek

0 komentar Rabu, 07 Januari 2009

Hari ini aku menerima sms dari adikku tercinta, Mayek tentang permasalahan berat yang dirasakannya saat ini. Rencana penikahan di awal Maret tahun ini ternyata mengundang banyak masalah, dari mulai kehadiran dari saudara calon suami yang tidak “disukai” keluarga, teman-teman di kantor yang bersikap aneh dengan rencana nikah ini, bos yang makin aneh saja kelakuannya. Dan soal anggaran juga jadi masalah, karena ini seolah-olah dipertaruhkan dalam soal gengsi keluarga. Aduh mak !

Aku hanya bisa memberi nasehat pada adikku satu ini. Terbayang kalau aku mengalami hal yang sama, mungkin mengalami sakit yang sama dengan Mayek. Aku hanya nasehatkan saja bahwa dia harus PASRAH pada Allah, mau diapain aja, tetap pasrah. Aku yakin dengan semakin “menyerah”, maka kita akan semakin “menang”.

Aku juga berpesan bahwa dia harus selalu ingat bahwa aku dan istriku selalu ada di belakang untuk mendukungnya. Kami selalu bersedia menjadi “shoulder to cry on”. Ya tapi mudah-mudahan tidak sampai termehek-mehek begitu.

Aku hanya bisa berdoa buat adikku, semoga Allah memudahkan segala persoalannya. Semua memang mengalami cobaan, karena surga tidak murah. Semoga aku, adik-adikku dan keluarga semua bisa bertemu di surgaNya. Amin.

Kemarin ada peristiwa unik di sore hari, saat Caca main di rumah. Aku kedatangan seorang pria tanggung, ramah sekali, datang sendiri. Tadinya aku pikir dia adalah anak STT yang ngontrak di sebelah rumah. Ternyata dia menawarkan jasa terapi, siapa tahu bapak ada sakit-sakit di badan atau apa gitu, katanya.

Saya serta merta bilang nggak dulu. Dia, masih dengan sikap ramahnya, mengatakan tidak apa-apa, lalu pergi. Anehnya beberapa detik kemudian aku tiba-tiba menjadi tidak enak hati, dan jadi seperti orang linglung. Aku segera pakai baju, setengah berlari mengejar si mas tadi, sayang sampai di pertigaan dekat rumah Michael sudah tidak ada jejaknya lagi.

Aku jadi gak enak hati tadi karena aku pikir andai saja aku mau diterapi oleh si Mas itu, paling-paling aku keluar duit 10 sampai 20 ribu saja. Apalah arti uang sebesar itu dibandingkan dengan keramah tamahan yang ditunjukkannya padaku. Kasihan anak itu, terbayang mungkin dia sangat mengharapkan mendapatkan rejeki dari rumahku. Astaghfirullah. Ampuni hamba-Mu yang tak tahu diri ini.

read more “Mayek Oh Mayek”

Jalan-jalan ke Pemkot Cimahi (1/2)

0 komentar Minggu, 04 Januari 2009

Pagi ini, aku sudah bangun jam setengah empat. Masih ngantuk sih, tetapi anehnya kok nggak bisa tidur lagi. Baru teringat, aku belum sholat Isa. Astaghfirullah. Cepat-cepat aku ambil wudlu, dan sholat. Tidur sebentar, walau hanya tidur ayam, suara adzan subuh sudah memaksaku untuk bangun lagi, menunaikan sholat subuh. Dan jam stengah enam, aku bangunkan Mom untuk sholat subuh dan siap-sipa jalan-jalan ke Pemkot Cimahi, seperti kesepakatan kami kemarin.

P6260020 P6260001 P6260002 P6260003 P6260004 P6260006 P6260007 P6260008 P6260009 P6260010 P6260011 P6260012 P6260014 P6260015 P6260018 P6260019

Maka aku dan Mom jalan pagi ke Pemkot. Segar banget. Apalagi lihat pasarnya, sayur-sayuran yang katanya diambil dari Lembang, hijau banget. Senang sekali memegang daun-daun ubi dan terong di situ.

Pulang aku sempatkan makan kupat tahu padalarang yang jadi langganannya Mom. Enak juga, dan sesaat kami selesai, wah..banyak berdatangan orang untuk ngantri pesan. Untung udah selesai duluan.

Ngecek sms di HP, wife akan pulang besok sore jam 4, lokasi pendaratan di Buah Batu. See you my lovely woman !

read more “Jalan-jalan ke Pemkot Cimahi (1/2)”

Jalan-jalan ke Pemkot Cimahi (2/2)

0 komentar

Ini lanjutan gambar-gambar di pemkot Cimahi.

P6260050 P6260021 P6260022 P6260024 P6260025 P6260028 P6260030 P6260031 P6260033 P6260034 P6260035 P6260036 P6260041 P6260042 P6260043 P6260045 P6260046 P6260047 P6260048 P6260049
read more “Jalan-jalan ke Pemkot Cimahi (2/2)”

Pandigajati

Sabtu, 03 Januari 2009

Sabtu kemarin, ku bersama Mom and Dian, mencoba wahana renang yang baru beberapa bulan lalu diresmikan. Namanya Pandigajati. Letaknya tidak jauh dari rumah, tepatnya di depan kelurahan, Jalan Kecamatan. Ada banyak fasilitas di sana, tempat bermain anak, dengan beberapa permainan keluarga. Kolam renangnya sendiri ada dua, satu untuk anak-anak dan satu lagi untuk remaja dan dewasa, yang dipayungi oleh penutup dari terpal warna terang. Keren juga, kelihatan elit. Terasa nggak rugi beli tiket seharga 10 ribu per orang.

Setelah puas hampir satu jam renang, sambil melihat kelucuan anak-anak dan para remaja tanggung yang bersenda gurau sambil berenang, serta melihat aksi petugas yang bermain bola raksasa dimana si petugas masuk di dalamnya, kami bertiga menuju taman. Asri juga taman bermainnya, ditata cukup profesional, dan Mom malah tertarik dengan salah satu gedung di situ yang dapat difungsikan sebagai sarana untuk ajang acara nikahan atau pertemuan umumnya. Wah, seru juga kalau Mayek nihakan di situ, pesta bertema kebon gitu deh ceritanya. Tapi bulan Maret nanti masih musim hujan nggak ya? Ini dia yang dikawatirkan kami semua. Maunya sih tenda-tenda disebar sekitar taman, tapi kalau turun hujan ? Nah lo.

Malam hari, Abah Atang datang. Aku kaget juga, karena Mom tidak kasitahu sebelumnya kalau ada acara pijat malam ini. Mom lupa rupanya, tadi pagi waktu belanja sekalian kasitahu kakek (Pak Lili) untuk pesan pijat ke Abah Atang. Emang sih, sempat aku ngobrol ama Mom sehari sebelumnya kalau lagi ingin dipijat ama Abah Atang, tukang pijat yang menurutku lumayan ngerti tentang tata letak urat. Pijatannya sih nggak keras-keras amat, tetapi mengena banget. Ya ini cocok-cocokan juga sih. Wah, sudah hampir setahun aku nggak dipijat ama Abah.

Banyak cerita dan info berguna dari Abah tentang kesehatan. Sambil mijit, beliau cerita tentang keikutsertaannya dalam perang Permesta di Sulawesi. 40 bulan di sana, dengan dua kali periode. 20 bulan, pulang untuk istirahat selama 3 bulan, lalu balik lagi ke sana. Berbagai kota habis dijelajahinya, untuk menemukan Kahar Muzakar dan konco-konconya yang waktu itu menjadi target operasi. Setelah Kahar Muzakar tertangkap, maka selesailah tugas, kembali ke Bandung.

Abah juga memberi tip tentang cara untuk dapat momongan. Dari mulai pesan untuk menjaga bagian “poros” (sekitar kemaluan) sampai bagaimana melakukan senggama. He..he..Abah emang banyak banget pengalamannya. Dan uniknya, beliau meramal aku akan dapat momongan pertengahan tahun ini. Wah ??!! Aku nyantai saja, tapi jika itu benar terjadi, ya Alhamdulillah.

read more “Pandigajati”

Tahun Baru 2009

0 komentar Kamis, 01 Januari 2009

Sebenarnya sudah ngantuk berat, tetapi aku paksakan menulis dulu selama setengah jam untuk mengenang detik-detik menjelang pergantian tahun baru. Saat jariku bermain-main pada keyboard kali ini, jam menunjukkan pukul 10 malam.

Terdengar bunyi dentuman kembang api yang diluncurkan sekitar kompleks-ku.

Akhirnya….ga kuat, aku tidur aja dulu lah….

Zzzzzzz……………………….zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…….

Pagi, bangun jam enam. Terlambat subuhan, padahal tadinya udah sempat terbangun jam lima-an, seingatku. Dasar hamba tak tahu diri, malah tidur lagi. Tapi kupaksain saja sholat subuh jam enam, daripada nggak sholat. Tapi udah masuk ke status makruh kali.

Aku ngajak Mom ke pasar, but Mom bilang nggak ada doku untuk ke pasar, Mom maunya beli di warung sebelah saja, seperti biasa. Tapi aku rada ngotot tetap mengajak Mom ke pasar. Mom mau juga akhirnya, dan kita sepakat naek angkot saja, karena sepeda motor Bapak kehalangan sepeda motornya Kendi, padahal si Kendinya masih tidur pula.

Sampai di pasar antri, ku dan Mom berpisah. Ku jalan-jalan sendiri keliling pasar sampai ke Cimahi Mall, balik lagi ke pasar, sambil lari-lari kecil. Hmm…pasar nampak agak sepi, mungkin semalam sebagian tokohnya ikutan maen atau nonton kembang api malam pergantian tahun. Aku minta dibuatkan kolak ama Mom, dengan membeli pisang dan tape singkong yang dijual persis di jembatan masuk ke pasar antri. Tak lupa pulangnnya Mom beli odading langganan yang ada di depan pasar, persis seberang jalan, tempat biasa orang berdiri menunggu angkot.

By the way, terpikir juga di kepalaku, ketika semalam aku terbangun beberapa kali, salah satunya karena suara dentuman kembang api yang beredar di langit Bandung. Agak lama juga kejadiannya, mungkin sampai puluhan menit. Jadi mengganggu tidur, dan berapa ribu orang yang mungkin mengalami hal yang sama sepertiku. Atau balita yang mungkin menangis atau orang-orang yang lagi sakit di rumah sakit, yang tidak bisa nyenyak tidur karena ulah segelintir orang “gaul” yang meniru tingkah orang-orang barat. Kasihan bagi saudara-saudaraku yang sakit tadi, tapi aku lebih kasihan lagi dengan orang-orang “gaul” itu. Dan kuyakin, sebagian diantara mereka mengalami masalah ekonomi, tapi demi kembang api dan memaknai malam pergantian tahun, mereka merelakan uang dan waktunya (plus fisiknya juga) untuk berpesta, yang nggak jelas maksudnya apa. Kenapa mesti harus gembira kalau tahun berganti angka ?

Ah sudahlah, mungkin saja mereka melakukannya karena stress memikirkan keadaaan saat ini, yang masih saja dihantui ketidakpastian. Malah dari koran-koran diberitakan bahwa efek puncak dari krisis keuangan dua bulan ini akan dirasakan di tahun 2009. PHK besar-besaran akan menanti sekian juta pekerja. Mungkin orang”gaul” tadi menggunakan aji mumpung, mumpung masih ada uang (walau sedikit) dan ada waktu, maka pesta dulu, soal nantinya akan sakit ya nanti saja dipikirkan. Hm…pendek sekali berfikirnya.

Semalam sekitar setengah tigaan, aku dikagetkan dengan deringan telpon rumah, yang langsung diangkat Bapak yang terbangun. Mungkin takut ada apa-apa, kabar dari saudara jauh atau kabar penting lainnya, kok sampai telpon larut malam begini. Tapi setelah diangkat, tidak ada jawaban apa-apa, malah terdengar suara sayup-sayup musik mengalun, ya seperti di suasana cafĂ©. Aku juga terbangun dan sempat mendengarkan telpon itu. Sampai dua kali tuh telpon “aneh” berdering. Kesalahan sentral telpon? Tipis kemungkinan, walaupun bisa saja terjadi. Orang iseng? Siapa ? Nah lo, aku jadi mencari di dalam pikiranku beberapa wajah “tersangka” nya. Jangan-jangan “dia”, “dia” atau si “dia”. Yah, semoga Allah melindungiku dan memberi petunjuk kepada mereka, terlepas dari apakah benar “dia” yang melakukannya. Dan aku mohon ampun jika imajinasiku ini menjurus ke fitnah. Astaghfirullah. Ampuni hambamu yang berfikiran sempit ini ya Allah.

Today, hari ketiga di rumah BPI, ku mulai ngerasa suntuk juga. Mungkin karena wife ada nun jauh di sana, di Jakarta, dengan Mom dan Dad-nya. Nggak ada yang mijit-mijit saat mau tidur. Dada kananku kok rada nyeri nih ada apa ya? Ah penyakit kok ada aja. Padahal aku belum tua-tua banget. Ya smoga Allah memberi kesehatan yang baik padaku, agar bisa melanjutkan hidup yang masih memerlukan perjuangan yang luar biasa, karena aku punya kewajiban yang besar, bukan hanya menghidupi keluargaku semata, tapi juga adik-adik dan orang tua, baik dari pihakku dan pihak istri. Pusing aku. Tapi aku serahkan semuanya pada Allah. Yang penting aku harus terus berusaha, dan berdoa tiada henti.

Tinggal empat hari lagi nih aku harus masuk kuliah lagi. Masih ada dua pekerjaan rumah besar yang harus kuselesaikan sebelum masuk. Satu adalah membuat proposal thesis yang nanti harus aku kirimkan ke pak Soni dan pak Rumani, satu lagi menyelesaikan PR pemodelan tugas dari pak AT Hanuranto. Wah, kok rasanya malas banget memulainya, padahal tangan udah ada di atas keyboar laptop.

Hari ini rasanya harus aku gunakan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan kedua PR tersebut. Bismillah.

read more “Tahun Baru 2009”

Menghadiri Undangan Nikah di Pasir Endah

0 komentar

Pagi ini jam stengah enam aku dah siap-siapin diri untuk nganter Mom, sesuai janjiku minggu lalu, ke pernikahannya anak bu Iswadi, tetangga. Aku pakai batik biru, nyopirin Mom, Dian, Mak Dudung, dan satu lagi Ibu sebelah rumah aku lupa namanya. Bapak nggak ikut, nunggu rumah aja.

Sebelum berangkat, kami menuju rumah Bu Is dulu. Well, pada sibuk semua kelihatannya. Dan sekitar setengah jam kemudian kami berangkat beriringan sekitar lima mobil menuju tujuan di kelurahan Pasir Endah, Kecamatan Ujung Berung (masih masuk kota Bandung).

Rupanya mobil harus naek gunung dulu, di kampung yang ada di punggung gunung. Datang udah disambut ama degung sunda. Si yang punya hajat rupanya menyewa grup ini untuk menghibur hadirin.

Aku duduk agak terpisah dengan rombongan BPI, dekat rumah yang ada warungnya. Hehe, aku lihat ada tulisan “maaf tong nganjuk” menempel di dinding kaca warung itu. Nggak tahu apa artinya, tapi sepertinya lucu juga. Orang-orang ada yang beli makanan ringan untuk anak-anaknya, ada yang beli rokok, ada juga yang minta dibuatkan kopi.

Daripada bengong nggak keruan, setelah dari tadi menunggu acara dimulai, aku putuskan untuk turun saja, menuju parkiran mobil, sekalian mau baca koran.

Sampai parkiran dan ambil koran di mobil, aku menghampiri bapak satpam yang tadi mengatut posisi parkir saat kami baru datang. Ngomong ngalor ngidul, seru juga, setidaknya mengisi waktu untuk menunggu acara pernikahan selesai. Si bapak satpam tadi cerita sedikit tentang dirinya yang ternyata berasal dari Tangerang, sejak tahun 1975-an hijrah ke Bandung, dan istrinya ya orang Pasir Endah itu. Beliau cerita juga tentang saluran air di tepi sungai kecil yang kebetulan posisinya ada dekat aku duduk, yang katanya dibeli oleh kolam renang dengan cara mengalirkan air dari sumber ke kolam renang. Nampak ada pula orang mengisi wadah-wadah penampunga air dari mobil. Wah, kebayang sedikit lah, gimana kalau aku ambil rumah di situ.

read more “Menghadiri Undangan Nikah di Pasir Endah”