At Mbah Ngadino’s Home (1/2)
0 komentar Selasa, 07 Oktober 2008Foto-foto Tour de Jogja Part 2
0 komentar Senin, 06 Oktober 2008Ini ada lagi foto-foto Dian and the genks when trip to Jogja.

(dalam perjalanan pulang, pulesssss Yan?)

(Mom di depan kantornya Pak Gubernur, sinuwun Hamengku X)
(my wife nampang at Klewerss, sempat dikatain "Kampungan" ama cewek Solo yg melintas di sebelahku, he..he..)

(Sepasang sejoli di depan Candi, gayanya oke, padahal kepanasann...)
Foto Perjalanan Tour de Jogja Part 1
0 komentar Sabtu, 04 Oktober 2008Ini foto-foto yang sempat kuambil saat tour de Jogja ala laskar pelangi Brosot lebaran kemarin. Semoga keluargaku, dimanapun berada, makin membaik saja, dapat rejeki dari Allah. Amin.

(makan bakso and minum dawet khas Purwokerto di sisi jalan Rawalo)
(ini jelas kan...Borobudur, dah bosen tapi ya ngikut maunya Mom aja lah)
(kerajinan keramik di daerah ...., wah lupa, pokoknya masih seputar di Jogja lah)

Mbah Ngadino nan bersahaja
0 komentarKulon Progo, di hari Sabtu itu usai kami semalam berjibaku di Jogja mencari penginapan, kami pagi langsung tancap gas menuju Kulon Progo, tepatnya ke desa tempat Nenek tercinta kami Mbah Ngadirah dillahirkan dan dibesarkan sampai usia 8 tahunan.
Aku begitu motivated banget, ingin segera menikmati keharuan dan nostalgia “samar-samar” ku karena sudah 35 tahun aku tidak ke tempat itu lagi. Terakhir ku ke sana pada tahun 1974-an dan samar-samar memang aku ingat suatu jembatan maha besar dengan sungai di bawahnya yang juga tidak kalah sangar. Ternyata memori dalamku sempat merekamnya dengan baik.
Hm, perjalanan akhirnya sampai ke Srandakan, kota kecil dekat jembatan Kulon Progo, sebelum kami siap-siap melintasinya. Berhubung di seberang jembatan itu sudah masuk wilayah desa, kami perkirakan lebih mudah jika cari oleh-oleh di Srandakan saja, buat keluarga besar yang akan kami kunjungi. Ya, walaupun dapatnya hanya kue-kue kering dan air mineral ukuran gelas saja. Kata Ibu biar nggak ngerepotin keluarga di sana, ya kita beli air mineral saja sendiri.

Akhirnya kami menyebarangi jembatan itu. Angin agak terasa galak ketika aku sengaja membuka jendela mobil. Wah, angin ini sempat “dibangga-banggain” Mom and Dad waktu cerita sebelum kami berangkat.

Karena sudah pada kelaparan semua, ya kami sempatkan sarapan dulu di warung soto. Lumayan, ada bakso dan mie-nya segala. Bersih dan penjualnya ramah tamah, dan ya Letto alias jawa semua pastinya. Tapi ada satu hal menarik yang aku perhatikan. Ada kurungan burung (dan burungnya) dengan jarak semeter di atas gelas-gelas yang disiapkan untuk minuman sang pembeli. Sebagian gelas sudah diisi dengan the, sehingga jika ada yang memesan minuman itu, tinggal ditambahkan air panasnya saja. Nah lo, kalau itu burung pipis atau BAB, dan angin lagi kenceng dan arahnya pas…percikannya bisa masuk ke gelas itu tanpa permisi.

Kenyang sudah, dan si giant Dian Alhamdullillah doyan juga. Makanannya lumayan enak lah, plus lagi kita sudah pada lapar semua. Plus incident kecil si giant tanpa sengaja menumpahkan semangkuk nasi. Lumayan keriting juga itu tangan sih !
Akhirnya hunting dimulai, karena Mom lupa rumah itu dulu dimana, padahal baru sekitar 3 tahun lalu. Tadinya aku agak heran, tapi begitu lihat medannya, wah maklum juga. Kelihatannya itu rumah-rumah pada sama semua, walau kalau diamati memang beda tentunya. Ya akhirnya daripada sesat di jalan, ya kami malu-maluin bertanya saja pada orang-orang yang sempat kami lihat. Dan setengah jam kemudian, sampailah ke rumah Mbah Ngadino, adik Mbah Ngadirah, nenek kami. Jadi sebutannya mungkin Mbahlek Ngadino kali ya.
Rumah itu kecil, dan sempat benar-benar membuat Mom kaget, pasalnya tidak menyangka kok jadi menciut seperti itu. Barulah kami sadari, ternyata rumah yang sekian tahu dilihat Mom sudah rata dengan tanah akibat gempa besar di Jogja beberapa tahun silam. Astaghfirullah. Kami baru sadari itu semua. Aku hanya terdiam tersipu malu karena kebodohan itu. Pada saat itu terjadi, bahkan Dad pun tidak menyadarinya. Dan tragisnya, desa Brosot ini adalah salah satu desa terparah yang menjadi korban keganasan gempa itu.
Akhirnya kami terlibat percakapan yang penuh dengan nostalgia. Sedihnya, Mbah Ngadino sudah sangat tua, pendengaran sudah tidak seberapa peka lagi. Mbah putrinya juga sudah sakit-sakitan tujuh bulan ini. Kasihan sekali nasib keduanya. Anak-anaknyapun kulihat tidak bisa diharapkan banyak untuk bisa menjaga dalam kondisi seperti kebanyakan orang merawat orang sakit. Mbah, maafkan kami semua.

Di kamar tidur Mbah putri yang tidak seberapa itupun hanya terlihat sebungkus lontong. Hanya lontong saja, tidak ada lainnya. Aku sempatkan mengintip apa yang ada di meja makan mereka di belakang pintu, hmm aku hanya bisa menghela nafas, hanya bacem tempe dan nasi saja, itupun sudah dingin kena angin.
Betapa sederhananya mereka. Betapa aku sangat terpukul dengan ini semua. Sekolah tinggi-tinggi tidak mampu berbuat apa-apa. Pengetahuan yang kadang terasa sudah cukup banyak pun tidak mampu memberi arti apapun pada keluarga sendiri. Sok kota, padahal dari tanah inilah aku akhirnya dilahirkan. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Lidahku kelu.
Kami sempat nikmati segarnya air sumur milik Mbah, dengan menimba dulu. Kenangan dulu saat SD, saat aku punya sumur di rumah kami saat kami tinggal di Jember, sempat membantu Mom menimba airnya, dan itu sungguh menyentuh batinku. Si Dian ikutan mencoba, wah…kaku banget ini gadis bandung. But, kami sempat tertawa-tawa melihatnya.
Kusempatkan pula menengok kandang kambing, sapi dan pura-pura naik pohon kelapa milik Mbah, sekedar bergaya untuk difoto. Ulah kekanakan, tapi itu mereka semua tidak tahu, sekali lagi, itu sangat berarti bagiku, mengingatkanku dulu waktu bolos kegiatan pramuka saat masih di SD Jember Lor IX, malah main ke kebon orang, naik pohon kelapa. Begitu sampai di atas, eh…teman-teman pramukaku lewat, langsung deh, aku geser-geser badanku agar batang pohonnya menutupi badanku. Dan akhirnya waktu itu badan merah semua, gara-gara tidak bisa turun, hanya berpegangan memeluk batang pohonnya, untuk kemudian sedikit demi sedikit merenggangkan pelukan setahap demi setahap sampai badan mencapai tanah. Bisa naik tapi gak bisa turun.
Sempat Mom bertemu secara tidak terduga dengan teman mainnya dulu waktu kecil, yang kini tinggal di Surabaya. Saat itu kebetulan dia juga pulang menengok keluarganya di Brosot. Seru juga mendengar cerita-cerita mereka. Anehnya Mom sangat rinci bercerita tentang teman-teman maennya waktu itu, padahal waktu itu mungkin antara tahun 65 sampai menjelang Mom kawin ama Dad.
Tiba saatnya kami pamitan, setelah lebih dari tiga jam kami di sana. Plan mau ke sawah, mau naik sapi, mau naik pohon dan segala macam keinginan yang berbau desa, tidak kesampaian. Ternyata Mbah sudah tidak mampu lagi melakukan sebagian besar kerjanya dulu. Padahal saat masih sanggup, Mbah melakukan banyak hal, dari mulai ngarit (cari rumput sapi dan kambing), bersawah, membuat gula merah, dan menukang.
Kami sempat titipkan bebepa lembar uang buat mereka, tapi itu tidak seberapa, dan mungkin hanya mampu membuat sedikit senyuman saja pada hari itu, untuk kemudian besok mengalammi hari-hari yang biasa lagi, hari-hari keprihatinan. Aku berdoa semoga anak-anak Mbah Ngadino, yang katanya ada enam dan semuanya ada di desa itu, bisa menjaga baik-baik si Mbah. Dan tentu saja harapan terbesarku adalah sang Raja di Raja Penguasa Alam Jagad Raya ini, Allahuakbar, yang mudah-mudahan akan melindungi kedua Mbah-ku itu, memberi rejeki, kesabaran dan kelapangan untuk mengarungi sisa hidup mereka. Amin. Allah yang Maha Pengasih, kutitipkan si Mbah pada-Mu.
Adikku Tunangan
0 komentar Rabu, 20 Agustus 2008Kayaknya aku nggak sendirian lagi menjadi anak yang memiliki keluarga. Yap, my little sister, si Mayek, bertunangan dengan lelaki pilihannya, Mas Ari, the man from Purwokerto.
Persiapannya sudah dari sebulan sebelumnya, sampai akhirnya hari itu saya dan wifeke Cimohay untuk bantu-bantu Pa and Ma. Jadi deh Pa sibuk berat, gotong kursi ke sana-sini. Gelar tikar dan karpet. Mom sibuk dengan masakan dan jajanannya yang siap dibagi ke para tamu nanti.
Akhirnya ba'da maghrib, keluarga besar Ari datang. Pakai dua mobil yang salah satunya disopirin si Ari sendiri. Yah, akhirnya kenalan juga dengan Ortunya, Pakde Sobar dan istri, serta anaknya. Ada juga saudara mereka yang tinggalnya di Lembang.
Dipimpin oleh Ustad Pak Uud, kedua keluarga dipertemukan dalam ikatan. Rencana nikahannya sih kayaknya tahun 2009, maybe Januari paling cepat. Tapi saya dengar bisa mundur juga sih, let's see aja.
Ya, semoga jalan yang akan ditempuh adikku ini diluruskan oleh Allah, dan mereka bisa membentuk keluarga sakinah mawadah warohmah. Amin.
Adikku, selamat ya.




Hunting Rumah
1 komentar Minggu, 17 Agustus 2008Ini terjadi di bulan Juli dan Agustus, sebelum puasaan.
Gara-gara punya duti udah di atas 30-an jeti, ku dan istri mulai hunting rumah di seputaran Bandung Selatan. Kami cari-cari kemungkinan, mau dimana nih enaknya. Sulit juga ternyata, karena ingin bagus plus luas dengan duit segitu-segitu aja. Terselip juga rasa penyesalan kenapa dulu-dulu aku nggak beli rumah. Jadi kasiyan ama istriku, sampai usia hampir mendekati 40 gini, kami belum punya rumah. Tapi ya itu kan karena kesalahan dan kebodohan ku sendiri, dan mungkin juga Tuhan belum ngasih rejekinya kali.
• Kompleks kami sendiri, yang kata pak Dadang, salah satu manajer teknis akan membangun lagi di tanah lapangan belakang deretan rumah si bondeng. Tapi masih belum jelas juga karena masih harus berunding berkali-kali dengan masyarakat sekitar yang katanya mengajukan persyaratan yang terlalu berat bagi calon developer (pak Dadang dkk). Kabar terakhir kudengar perundingan itu gagal, dan muncul spanduk di dekat jalan komplek menuju masjid Al Hikmah yang bertuliskan “kami warga GBA 1 menolak pembangunan kompleks…”. Wah, kayaknya harus menunggu lebih lama lagi kalau emang mau ambil rumah ini.
• Perumahan baru depan gerbang STT. Aku lupa namanya, tapi waktu kami baru datang ke Bandung sini Maret 2008 lalu emang belum ada nampak ada tanda-tanda pembangunan. Tapi sekarang, wah…cepet sekali, apalagi dengan kehadiran Politeknik Telkom yang baru, yang tahun ini saja menyerap hampir 1200 mahasiswa (gila ya!) udah hampir sepertiga penuh dengan rumah-rumah baru. Katanya sih laris manis, banyak dosen-dosen STT dan para ortu mahasiswa yang ambil rumah di situ. Dijadikan bisnis juga oke kayaknya. But, mahalnya itu loh. Nggak kuku.


• D’amerta, nah ini dia rumah yang ditaksir berat olehku dan istri. Maunya sih ambil yang tipe 60, luas tanah 110. Ini dia foto-fotonya. Ada sih yang tipe 40. Dan memang, kelemahan utamanya satu, harus masuk jauh ke dalam. Ini juga yang menyebabkan Dad dan Mom nggak setuju. Mendingan ke Antapani aja kata mereka. Wah…rada sedih juga, padahal sempat semangat 45 untuk ambil ini rumah, malah sempat dalam seminggu udah hamppir 3 kali datang terus ke sana. Jadi nggak enak ama si Adek yang jadi salesnya, yang kebetulan doski adalah adik Bu Endang, istri teman kantorku di Makassar.




*Graha Pesona, ini ada rumah tipe 50-an dengan tanah yang luasnya oke banget, berlokasi sekitar Sukarno Hatta, deket ama Pasar Induk Gedebage, dengan harga hampir setara dengan rumah yg kuincar di D’amerta (250 an). But, bentuk rumahnya kurang oke, karena emang itu didisain oleh si calon pemilik lama, polisi katanya, yg akhirnya batal karena masalah pembayarannya. Ini dia foto rumahnya.

• Rumah-rumah sekitar Antapani. Kayaknya jauh-jauh gitu kesannya, dan jelas mahal untuk yang tipe 60-an. Tapi ya sempat aku dan istri lihat-lihat, sambil jalan-jalan sekitar Cicaheum.
• Perumahan sekitar Ujung Berung, sempat lihat Griya Melati (kalau nggak salah). Tapi sayangnya jauh dan naik ke semacam perbukitan. Katanya sih airnnya emang pakai artesis gitu. Wah, jadi ingat ama rumahnya si Icank di Cileunyi.
• Rumah-rumah sekitar BPI, tempat Mom dan Dad tinggal. Kalau yang ini, aku kayaknya serahkan sepenuhnya ke Dad saja lah. Ada sih rumah yang Dad naksir berat, yaitu di Green Vila (Vila Hijau) Cimahi, but harganya rada selangit, 325 jt. Wah, mana kuku.
Jira - Si Kecil Duren Sawit
0 komentar Selasa, 12 Agustus 2008Ini adalah si kecil penghibur hati Mama and Papa Duren Sawit. Her name is Jira, keponakannya Kang Dayat, calon adik iparku. Amin.
Semoga jadi alim beneran ntar gede ya Dek. AMin.




Ini







